Pawiwahan Agung yang digelar hari ini (18 Oktober 2011) antara putri bungsu Sri Sultan HB X yaitu Gusti Kanjeng Ratu Bendara dengan Kanjeng Pangeran Haryo Yudanegara, menyedot perhatian masyarakat, khususnya masyarakat Yogyakarta. Namun bukan detail dari prosesi pernikahan yang ingin saya sampaikan, karena pasti sudah banyak media lain yang menuliskan beritanya.
Hari ini saya sengaja membolos kuliah karena ingin melihat prosesi pernikahan tersebut. Paginya, pada saat saya mengantar suami saya ke tempat kerjanya, disepanjang jalan banyak papan iklan dan spanduk yang isinya turut berbahagia dan memberikan selamat kepada dua mempelai. Kebanyakan menggunakan bahasa jawa seperti: …..nderek mangayubagya pawiwahan ageng…., …..nderek mangayubagya dhaup ageng…., nderek mangayubagya palakrami ageng….., dan dan satu tulisan Bahasa Indonesia di spanduk yang di tempel di dekat gedung BI, di jalan yang menuju keraton yang isinya: …..turut berbahagia atas pernikahan agung…. juga terdapat janur kuning di depan keraton menuju jalan malioboro (kepatihan).
Melihat ucapan-ucapan di baliho dan spanduk tersebut, saya jadi teringat kemarin sore sewaktu saya melihat breaking news di salah satu televisi swasta, dimana salah satu anchornya dengan percaya diri mengabarkan tentang persiapan royal wedding. Di layar kaca pun sala lihat beritanya adalah royal wedding. Waktu melihat berita tersebut, saya sempat bertanya dalam hati, mengapa mereka memberi judul royal wedding dan bukan pernikahan agung atau pawiwahan agung? Apakah mereka terinspirasi oleh pernikahan William dan Kate?
Saya yakin (setidaknya menurut yang saya percayai) bahwa pihak mempelai sendiri tidak pernah ingin menyebut pernikahan mereka sebagai royal wedding dan mungkin lebih suka dengan istilah pawiwahan ageng yang terdengar lebih njawani.
Pada saat upacara atau prosesi pernikahan mulai dari lempar sirih dan pondhongan (saya tidak melihat ijab kabul nya di tv waktu itu), saya pun akhirnya memutuskan untuk tidak melihat langsung dan menyaksikan melalui salah satu televisi lokal (Jogja TV), mengingat jalanan yang mulai ramai karena ada pengawalan presiden dan menteri yang datang menghadiri acara tersebut serta antusiasme masyarakat yang mulai memadati malioboro.
Pada saat jeda iklan saya berusaha mencari chanel lain yang menyiarkan secara langsung prosesi tersebut, namun di layar kaca tidak terlihat ada televisi lain yang menyiarkan acara tersebut secara langsung selain Jogja TV. Beberapa kali memang ada televisi yang menyiarkan breaking news atau menyiarkannya dalam bagian dari berita namun tidak ada yang menyiarkannya terus menerus kecuali satu yang saya sebutkan tadi. Disini saya mulai bertanya lagi dalam hati, bagaimana mungkin ya proses adat dan budaya yang saya banggakan, asli dari Indonesia hanya diliput live oleh satu stasiun televisi lokal, padahal waktu pernikahan William dan Kate ada lho stasiun televisi yang menyiarkannya langsung, pake dibahas lagi sampai hampir seharian!. Stasiun televisi swasta pada hari itu nampaknya lebih tertarik terhadap pemberitaan mengenai reshufle kabinet. Saya sedikit kecewa sih karena jadi tidak ada perbandingan pengambilan gambar untuk pawiwahan ageng tersebut, jadi mau gambarnya goyang-goyang atau kejauhan atau iklan yang begitu banyak dan berulang-ulang ya tetap saya tonton, sampai saya hapal dengan salah satu iklan yang ada mbak-mbak ngangguk dan bilang “kami bantu”.
Dari prosesi yang saya lihat di televisi tersebut, ada satu hal yang juga menarik perhatian saya, yaitu para abdi dalem. Saya ingat ketika saya kecil dulu, nenek saya adalah abdi dalem yang biasa menyapu (atau membatik- agak lupa) di keraton dan waktu itu dibayar tidaklah banyak, saya lupa jumlahnya namun menurut ukuran saya waktu itu sangat kecil. Mengingat hal itu saya berpikir, bagaimana bisa ya sebuah loyalitas tidak terpengaruh oleh nominal uang? Bagaimana bisa ya kesetiaan para abdi dalem itu bisa sampai segitunya? Yang saya pahami saat ini bahwa mungkin mereka memang istilahnya ngalap berkah atau mencari berkah dalam mengabdi jadi tidak terlalu memusingkan berapa mereka dibayar karene niat mereka emang benar –benar mengabdi, bukan sekedar mencari uang atau pekerjaan. Suami saya sih bilang kalau semuanya ditanggung walaupun gajinya kecil (maksudnya kesehatan, makan) nah kalau yang ini saya nggak tau persis, karena gak sempat nanya ke nenek waktu beliau masih hidup.
Nah melihat para abdi dalem dan kesetiaanya itu saya jadi ingat tentang abdi negara alias PNS dengan konsep mengabdinya. Bukankah sebagai abdi negara seharusnya begitu ya, mengabdi dan loyal demi negara walau mungkin gajinya kecil, karena menurut saya dasar dari mengabdi adalah rela, memang sudah diniati, bukan karena mencari harta atau gaji yang besar. Nyatanya yang saya lihat (menurut saya lho-sori klo salah) gaji besar blum tentu bikin seorang abdi negara jadi setia, remunerasi yang diberikan akhir2 ini pun belum mengubah negara dan kinerja abdi negaranya jadi baik, blum bisa bikin orang indonesia gak korupsi, blum bisa membikin nyaman teman-teman yang ditugaskan di ujung-ujung pulau terjauh agar tidak menjerit karena mahalnya biaya dokter, biaya hidup dan pendidikan, serta biaya transportasi untuk bertemu keluarga mereka.
Ah tapi mungkin saya terlalu sok tau kali ya, bisa saja saya salah, bisa saja saya benar. Yang jelas saya sendiri selalu ingin Indonesia jadi lebih baik, lebih bangga dengan budaya dan karya-karya anak bangsa (jadi inget mobil mahasiswa yang menang lomba yang masih ditahan di bea cukai). Tapi saya juga tahu perubahan itu tidaklah mudah, tapi saya pernah baca, klo mau berubah ya lakukanlah mulai dari hal yang kecil, dari diri sendiri, dan lakukan sekarang juga!.