OGIT, JANGAN PERGI!
I
Tampak seorang lelaki muda berpakaian kotor dengan rambut yang tak terurus berjalan menyusuri sebuah jalan sambil mengamati setiap orang yang lewat. Setiap kali ia melihat anak kecil, maka ia akan berlari memeluknya sambil menangis dan terus mengatakan kata-kata yang sama, “ogit, jangan pergi, ogit jangan pergi!”. Walaupun orangtua anak itu pasti akan marah dan mengatainya gila tapi ia tidak menyerah. Ia ingin Ogitnya kembali. Dia terus berjalan dan berjalan sambil mencari Ogit, adik yang sangat dicintainya.
II
Jam enam pagi, matahari belum begitu menyengat, namun suasana di kediaman om Galy sudah sedemikian panasnya. terdengar caci maki dan umpatan-umpatan kasar dari rumah mungil yang berhimpit-himpitan di gang sempit itu.
(terdengar suara tangisan seorang wanita)
Sugali “Bangsat, bangsat kalian semua, dasar anak tak tau di untung!. Sudah bagus aku mau menampung kalian berdua disini, eh ini malah ngelunjak. Apa kalian pikir nyari duit itu gampang apa? Harus berapa rupiah lagi yang aku keluarkan untuk anak cacat itu?”
Bangkit yang sedari tadi menahan marah, tidak kuasa menahan emosinya
Bangkit “Om jangan sebut ogit anak cacat!, dia normal!
Sugali: “Heh tolol!, kalo dia anak normal dia pasti bisa bicara!. Kalau ngomong saja nggak becus apa masih bisa dibilang normal hah? Itu namanya bisu tau!. Lalu aku kau suruh keluar uang banyak untuk menyekolahkan anak cacat itu!”
Bangkit “Om, Ogit bisa bicara om, hanya saja dia masih trauma sejak ……..”
Bulik “Sudah sudah, jangan bicarakan kejadian itu lagi Bangkit, kasihan adikmu!
Bulik yang sedari tadi menangis sambil mendekap Ogit berusaha melerai mereka berdua. Ogit hanya diam memandang mereka bertiga bergantian, matanya berair.
Sugali “Heh, perempuan jangan ikut campur! Sudah bagus kau kukawini, lagipula anak manja ini harus diberi pelajaran, seenaknya saja dia minta anak cacat itu disekolahkan memangnya aku ini apanya, sudah bagus dia bisa numpang makan tidur disini!
Bangkit “Om jangan seenaknya saja bicara, saya tidak hanya makan dan tidur disini, saya cari duit om, saya ngamen buat kasih makan Ogit! Saya berikan semua uang saya pada bulik, saya nggak makan dan tidur gratis disini om, saya tau diri, tapi mungin om yang nggak tau diri, kerja om hanya malas-malasan main perempuan dan menghabiskan semua uang yang saya berikan pada bulik!
(Sugali menampar Bangkit) plaaak!!!
Sugali “Kalo kamu tidak suka tinggal disini kamu boleh pergi! Jangan injakkan kaki kamu dirumah ini lagi!
Bangkit “baik, baik kalau itu yang om inginkan, saya akan pergi! Saya juga sudah muak melihat wajah om!
Bangkit berbalik menuju biliknya mengambil beberapa pakaian dan gitarnya, bulik Ratna melepaskan dekapannya pada ogit lalu berlali kecil menyusul Bangkit kebilik, sementara itu om Galy menyulut rokok lalu keluar rumah, entah kemana.
Bulik “Bangkit, kamu jangan pergi” (masih sambil menangis)
Bangkit “Saya harus keluar dari rumah ini bulik, saya tidak tahan, saya dan ogit harus pergi” (membawa barangnya keluar dari bilik, Bulik Ratna menyusulnya)
Bangkit “Ayo Ogit! (sambil menggandeng tangan Ogit)
Bulik “Tunggu, kalian mau kemana?”
Langkah bangkit terhenti
Bangkit “Saya tidak tau bulik, kemana saja asal tidak disini”
Bulik “Apa kamu punya tujuan?”
Bangkit hanya menggeleng lemah
Bulik “Lalu Ogit bagaimana? Jangan kau bawa dia, dia masih kecil, nanti dia tidur dimana? Mau makan apa? Kalau kamu benar-benar mau menyekolahkan ogit, pergilah tapi jangan bawa Ogit, nanti kalau kamu sudah punya uang dan punya kontrakan sendiri, kamu boleh boleh bawa ogit dari sini. Bulik janji akan jaga ogit baik-baik, kamu boleh pergi, tapi tolong jangan bawa ogit”.
Bangkit terdiam, dia bimbang, ia lalu memandang ogit, ia melepaskan gandengan tangannya lalu berjongkok menghadap ogit
Bangkit “Ogit pingin sekolah?
Ogit memandang Bangkit dengan pandangan mata berbinar sambil mengangguk
Bangkit “Kalau Ogit pingin sekolah abang mesti cari duit dulu yang banyak, Ogit tinggal disini dulu sama bulik ya?”
Bulik mendekat, memegang pundak ogit dari belakang
Bangkit “abang janji, abang pasti balik buat Ogit. Bulik, tolong jaga Ogit baik-baik, saya janji saya bakal jemput ogit!”
Bulik Ratna “hati hati Bangkit!”
Bangkit pergi, Ogit memandangi abangnya, bulik mengelus kepala Ogit, tampak punggung Bangkit semakin lama semakin menjauh dari gang sempit itu
III
Matahari mulai meninggi, tampak Bangkit ngamen di perempatan-perempatan jalan, kadang di bus-bus, atau dari rumah kerumah. Menjelang sore hari, Bangkit berjalan menuju sebuah rumah sempit, melewati gang-gang yang sempit pula.
Sampai ke depan rumah yang dituju bangkit berhenti, kemudian ia mengetuk pintu sambil memanggil nama temannya.
Bangkit “Cunk, Cunkring! Cunkring!”
Dari dalam terdengar langkah kaki, kemudian sseseorang membukakan pintu,memakai hem lusuh dan sarung.
Cunkring “Eh elo kit, gue kira siapa, ngapain lu tumben sore gini udah pulang ngamen?”
Bangkit “Elo yang tumben, tumben lu nggak ngamen?”
Cunkring “Yah nggak papa, lagi males aja, lu mau ngapain?”
cunkring mengeluarkan rokok dari saku hem lusuhnya, menyulutnya
Bangkit “Ini, gue mo minta tolong”
Cunkring “minta tolong apaan lu?
cunkring menawarkan rokok pada bangkit, bangkit menolak halus dengan tangannya
Bangkit “ntar malem gue tidur sini ya!
Cunkring kaget, kemudian celingukan melihat ke arah dalam, Bangkit masih meneruskan omongannya
Bangkit “gue ribut lagi ama om gue, gue pergi dari rumah, jadi sebelum gue dapat kontrakan, boleh ngga gue nginep sini?
Cunkring “aduh, bukannya gue nggak ngebolehin lu tidur sini kit, tapi bukan lu aja yang pergi dari rumah, cewek gue juga pergi dari rumah, nah lu tau sendiri kan ni rumah isinya cuman kamar satu, apalagi cewek gue lagi sensitive banget, lu tau nggak cewek gue kabur dari rumah gara-gara apa?
Bangkit menggelengkan kepala, sementara itu Cunkring memberi tanda membuat bulatan di perutnya dengan kedua tangannya menunjukkan kalau ceweknya hamil
Cunkring “nah lu tau kan sekarang, gue aja lagi pusing, bingung, nggak tau musti bagaimana, lu coba aja ke tempat temen-temen yang lain kali aja bisa bantu lu, sori banget nih gue nggak bisa bantu elo, lu bisa ngerti kan?”
Bangkit “iya kring gue ngerti”
Cunkring “ya udah kalo gitu gue masuk dulu ya”
Cunkring memasukkan rokoknya ke saku hemnya kemudian masuk rumah meninggalkan Bangkit sendiri.
Kemudian Bangkit menuju ke tempat teman-temannya yang lain tapi jawaban sama yang Bangkit dengar, mereka tidak mau membantu bangkit akhirnya bangkit kecapaian dan memutuskan tidur di emperan toko bersama gelandangan-gelandangan yang lain, memakai kardus bekas.
IV
Suatu pagi hari, seorang anak kecil yang hanya mengenakan singlet lusuh dan celana pendek tampak sedang meminta-minta, mulutnya diam tapi kaleng kecil yang disodorkan pada setiap orang yang lewat menunjukkan bahwa ia seorang peminta-minta. Sampai suatu saat ketika ia berada di depan sebuah SD, seorang ibu-ibu yang menggandeng anaknya memberinya roti, anak kecil itupun melahap roti itu sambil mengamati ibu-ibu tadi menggandeng anaknya masuk ke gerbang sekolah, anak itu berdiri di depan pagar sekolah, mengamati teman-teman sebayanya ceria bermain bersama teman teman sekelasnya. Anak itu, Ogit, menghabiskan sisa roti sambil menangis, duduk di bawah pohon di depan SD itu.
V
Bangkit menghitung uangnya setelah mengamen di perempatan, tiba-tiba sekelompok pemuda mendatanginya dan langsung mengeroyok memukulinya tanpa ampun, setelah Bangkit babak belur , mereka berhenti
Preman “heh lu dengerin ini baik baik, jangan coba-coba merebut lahan kami, enak aja lu, orang baru berani beraninya ngerebut lahan orang. Kalau lu masih mau idup, pindah sana, jangan ngamen disini lagi”
Bangkit tak berdaya, tak bisa melakukan apa-apa ketika orang orang itu mengambil semua hasil ngamennya. Dalam keadaan yang hampir pingsan, ia melihat seorang anak kecil sedang meminta minta di seberang jalan, dan rasanya ia mengenalinya, namun ketika ia akan bangkit kepalanya berputar-putar dan ia pingsan.
VI
Ketika bangun bangkit berada di sebuah tempat yang tak dikenalinya, kepalanya di kompres dan seorang wanita muda yang menor duduk di samping ranjang.
Sissy “sudah baikan?”
Bangkit “kamu siapa?”
Sissy “namaku sunarsih, tapi langgananku biasanya memanggil aku Sissy, kata mereka sih biar lebih keren”.
Bangkit “kenapa aku ada disini?”
Sissy “kau kutemukan di jalan ketika aku pulang mangkal, keadaanmu sangat menyedihkan jadi kau kubawa pulang, mari kubantu kau duduk”.
Bangkit “terima kasih, kau…… eh….?
Sissy “kenapa? Heran? Dandanan semenor ini untuk pelacur sekelas aku tidaklah masalah yang penting laku dan dapet duit”.
Bangkit “tapi kenapa…….”
Sissy “kenapa aku jadi seperti ini?, (menyulut rokok) aku diperkosa beramai-ramai oleh cowokku dan teman-temannya, dan itulah awal kehancuran diriku, tapi itu nggak penting, kamu sendiri kenapa sampai begini?”
Bangkit “ceritanya panjang……..”
Bangkit bercerita panjang lebar kepada sissy, (blur sebentar)
Sissy “jadi ibumu meninggal setelah melahirkan ogit, dan setelah ayahmu meninggal ogit tidak mau bicara lagi! Kau meninggalkan rumah om mu, ngamen lalu dipukuli preman yang juga pengamen itu?”
Bangkit “ rupanya kau pendengar yang baik sissy”
Sissy “yah itu sih sudah sewajarnya, banyak pelangganku yang menceritakan masalahnya kepadaku, kalau aku mau dapet tambahan tips, aku harus mendengarkan mereka baik-baik dan berpura-pura mengerti keadaan mereka”
Bangkit “tapi aku kan bukan pelanganmu”
Sissy “ya, memang bukan, kau lain, “
VII
Malam hari, di rumah om Galy, seperti biasanya, suasansa tidak pernah tenang, selalu saja ada pertengkaran yang terjadi, seperti malam itu, ketika Ogit baru pulang, om Galy langsung memarahinya.
Sugali “Ogit, kenapa baru pulang hah?, sini kasih semuanya ke om”
Ogit menyerahkan semua isi kaleng kecilnya ke om Galy.
Sugali “kenapa Cuma segini hah? Kamu pasti malas-malasan ya! Dasar goblok! Pekerjaan gampang begini aja nggak becus, heh kalau setiap hari kamu dapat segini terus, kamu bisa-bisa nggak tak kasih makan tau!”
Bulik keluar dari dapur membawa piring kecil berisi nasi putih tanpa lauk, dan air putih satu gelas.
Bulik “sudah, sudah dulu ngomelnya, kamu ini nggak punya perasaan mas!
Menyerahkan piring dan gelas ke ogit, ogit langsung melahapnya dengan rakus, sementara bulik dan om Gally terus bertengkar.
Bulik “Pokoknya aku nggak mau melihat Ogit kerja begini lagi, kamu sebagai lelaki seharusnya mencari uang bukannya menyuruh dan memarahi anak sekecil ini untuk cari uang!”
Sugali “heh goblok, jangan ngomong sembarangan, kamu juga nggak becus kerja! Coba kalau kau terima tawaranku, aku jamin anak itu nggak bakalan kerja seperti itu lagi”
Bulik “kamu ini keterlaluan, aku ini istrimu masa kau suruh kerja begituan, apa kamu ini sudah nggak punya otak, sudah hilang akal, sudah gila……”
Sugali menampar bulik “plaakkk” bulik menangis
Sugali “jangan sebut aku gila, kamu yang gila, semua ini karena kamu egois, coba kalau kamu mau menuruti permintaan ku, ogit tidak perlu cari uang lagi”
Bulik “tapi itu merendahkan harga diriku sebagai seorang wanita, tidak ada seorang wanitapun yang mau dilacurkan oleh suaminya sendiri”
Sugali “diam!, Bangkit pasti akan menyalahkanmu kalau dia tau kau tidak berbuat apa-apa untuk ogit, coba pikir baik-baik, (bulik duduk), kalau kau mau, kita pasti banyak uang, ogit tidak perlu mengemis dan kita tidak perlu bertengkar seperti ini.”
Bulik tampak masih menangis
Sugali “Baik, pikirkanlah dulu baik-baik, ingat Bangkit pasti akan menyalahkanmu jika ia sampai melihat Ogit mengemis, kau yang menahan Ogit disini, kau yang harus cari makan untuknya, bukan aku!”
Om Gally keluar rumah dengan perasaan marah dan mengomel tidak jelas, bulik memandang Ogit yang masih asyik dengan piring dan gelasnya lalu memeluknya dari belakang sambil menangis.
Bulik “Ogit, maafin bulik ya, bangkit maafin bulik, bulik juga nggak ingin seperti ini” (sambil terus menangis)
VIII
Di sebuah kedai nampak om Gally sedang bertransaksi dengan salah seorang temannya yang seorang preman sambil mabuk.
Preman “gimana? Jadi nggak? Aye udah ngebet nih!”
Sugali “beres, yang penting ininya dulu dong!”
Sugali menjentik-jentikkan jarinya tanda meminta uang
Preman “beres, tapi apa kamu nggak sayang, kamu kan tahu aku mainnya kasar, nanti kalau ada apa-apa dengan istrimu bagaimana?”
Sugali “ah yang penting duitnya setimpal ha ha ha”
Mereka berdua tertawa.
IX
Pintu rumah om galy dibuka dengan kasar, bulik yang sedang ngelonin Ogit terbangun, kaget, melihat suaminya datang bersama seorang yang tak dikenalnya.
Sugali “nah ini istriku, gimana? Bahenol kan?, silahkan nikmati sepuasnya, aku pergi dulu, ingat sewamu Cuma satu jam , tidak boleh lebih, ha ha ha ha ha”
Sugali pergi, bulik yang masih kebingungan meronta-ronta karena didekap oleh lelaki yang tak dikenalnya itu. Bulik menjerit-jerit, tapi tak ada yang perduli, tidak juga orang disekitarnya. Dan ketika orang itu berusaha memperkosa bulik, Ogit terbangun, dia melihat kedua orang itu dengan pandangan tak mengerti. Bulik menangis tak berdaya ketika pakaiannya dilicuti satu persatu, ogit tak mengerti, tapi ia tahu buliknya dalam kesulitan, Ogit lari dari rumah! Sampai di sebuah jalan ia berhenti, ia menangis terduduk di bawah pohon di pinggir jalan. Kemudian ogit terus berlari dan berlari.
Bangkit sedang mengamen di perempatan jalan ketika ia melihat sosok anak kecil yang begitu dikenalnya, kemudian dia bergumam sendiri “Ogit” katanya. Lalu ia berlari menyeberangi jalan menuju ke tempat anak itu, tapi ketika sampai di tempat anak itu, Ogit sudah pergi, Bangkit kebingunan mencari, kemudian ia melihat ogit berlari, ia mengejarnya, Ogit tidak tahu, Bangkit memanggilnya.
Bangkit “Ogit!, Ogit!, Ogit!”
Bangkit terus mengejar, ketika Ogit menyadari ada orang yang memanggilnya, Ogit berhenti, kemudian melihat ke belakang, setelah tahu yang memanggilnya adalah abangnya sendiri, ia pun berbalik berlari ke abangnya, setelah dekat, Ogit memeluknya erat erat sambil menangis. Bangkit kebingungan.
Bangkit “Ogit ada apa?, kenapa Ogit bisa sampai kesini? Kenapa Ogit menangis?”
Ogit berusaha berkata tapi terbata-bata sambil tetap menagis
Ogit “bu….lik”
Bangkit terkejut, adiknya mau bicara lagi
Bangkit “Ogit!, ogit sudah bisa ngomong lagi? Coba ulangi, tadi Ogit ngomong apa?”
Kemudian Ogit mengulang kata-kata “bulik” terus menerus sambil tetap menangis dan menunjuk sesuatu yang arahnya tak pasti.
Bangkit “bulik kenapa Ogit?”
Bangkit mulai cemas tapi ogit hanya mengulang kata-kata “bulik” sambil terus menangis, maka bangkit memutuskan untuk pergi ke tempat bulik.
X
Ketika Bangkit dan Ogit sampai beberapa meter di depan rumah om Galy, Bangkit malihat seorang lelaki yang pernah memukulinya keluar dari rumah om galy, Bangkit tak mengerti, Ogit dan Bangkit saling pandang, Ogit menunjuk orang itu, Bangkit tetap tak mengerti, ia bergegas masuk ke rumah. Sampai di rumah ia terkejut melihat buliknya terduduk di lantai dekat ranjang dengan pakaian dan rambut yang awut-awutan,tatapannya kosong, matanya berair,ia duduk memeluk lutut.
Bangkit “bulik kenapa?, siapa yang melakukan ini bulik?, siapa?”
Bangkit ikut duduk disamping buliknya, kemudian memeluknya,bulik sambil menangis bercerita.
Bulik “om mu melacurkan aku pada teman-temannya, jika aku tidak mau, ia akan memaksa Ogit mengemis, aku tidak tahu harus bagaimana lagi”.
Bangkit “jadi semua ini om Galy penyebabnya, dasar bajingan! (melepaskan pelukannya, berdiri) biar saya cari dia bulik, saya bunuh dia! Saya bunuh dia!
Bulik “jangan bangkit, jangan”.
Bulik memelas, tapi Bangkit tak perduli, ia keluar rumah, Ogit memeluk buliknya, tapi kemudian ia berlari menyusul kakaknya, bulik berusaha mencegah ogit dengan memanggilnya tapi ketika ia akan berdiri menyusul ogit, ia pingsan
XI
Bangkit pergi menuju kedai tempat omnya sering mabuk-mabukan, begitu ia melihat omnya, ia langsung mengumpat dan langsung memukul om Galy, perkelahian pun tak bisa dihindarkan lagi. Mereka berkelahi sambil saling memaki.
Bangkit “dasar bangsat, laki-laki tidak bertanggung jawab! Tega menjual istri sendiri, tega menyuruh keponakannya mengemis, tidak punya otak!”
Sugali “heh apa pedulimu, kau tidak terima?, mau melawan hah?” ayo maju sini kalau berani!”
Perkelahian bertambah seru, sememtara itu Ogit sampai di tempat itu, melihat omnya berkelahi dengan kakaknya. Ketika sugali memukul Bangkit, bangkit terjatuh, om Galy menendang perut Bangkit berkali-kali, mulut Bangkit mengeluarkan darah, sugali tertawa-tawa, Bangkit berusaha berdiri namun ia jatuh lagi. Ogit melihat omnya tertawa-tawa sambil mengeluarkan belati dari balik punggungnya. Bangkit kepayahan, melihat itu semua tiba-tiba Ogit berlari kemudian memegang tangan omnya dan menggigitnya sehingga belatinya terjatuh. Bangkit yang mellihat itu semua berusaha berdiri, namun ia tak bisa. Om Gally marah melihat Ogit turut campur, kemudian ia menempeleng Ogit, Ogit jatuh, om Galy merenggut ogit, menempeleng lagi,ogit menangis tapi om Galy tak perduli, kemudian om Galy menghempaskan Ogit ke tanah. Ogit jatuh kepalanya terantuk batu, darah segar muncrat dari kepala Ogit. Bangkit menjerit memanggil adiknya, sempoyongan ia menghampiri adiknya dan memangkunya sambil terus memanggil-manggil nama Ogit. Om Sugali tertawa-tawa. Menyadari adiknya sudah tak bernyawa, Bangkit histeris, entah mendapatkan kekuatan dari mana kemudian Bangkit menerjang Om Gally memukulnya berkali-kali, kali ini om Galy tak berdaya, Bangkit seperti kesetanan. Om galy tak bisa berdiri. Bangkit melihat belati om Gally yang terjatuh, kemudian mengambilnya. Ketika Bangkit berada tepat diatas tubuh om Galy, Bangkit menusukkan belati itu ke tubuh om Galy sambil terus meneriakkan nama Ogit. Om Gali tewas terbunuh. Bangkit menghampiri tubuh adiknya, memeluknya dan menjerit-jerit.
Bangkit “Ogit, jangan pergi!, jangan tinggalin abang! Ogit! Ogiiiiiiitttttt!!!!!!!
XII
Nampak seorang yang berpakaian kumal tertawa-tawa sendiri di jalan, ketika ia melihat anak kecil, maka ia akan mengejarnya, memeluknya dan berteriak teriak-teriak “Ogit, jangan pergi, jangan pergi, Ogit jangan pergi!!” orang orang disekitarnya memukulinya, menganggapnya gila karena selalu mengganggu anak –anak dan membahayakan anak-anak. Namun Bangkit tak menyerah, ia terus mencari Ogitnya, tak peduli kemanapun harus mencari, agar Ogit, kembali lagi padanya, agar mereka bisa bersama-sama lagi berdua, Bangkit dan Ogit.
*****
